“Manusia berbahasa ibarat burung bersayap”, demikian kata George H. Lewis. Bahasa tak terlepas dari hakikat
keberadaan manusia karena itulah yang menjadi piranti komunikasi antar manusia.
Pada ungkapan di atas nampak bahwa manusia tanpa bahasa sama seperti burung
tanpa sayap, karena sayaplah yang mecirikan burung dan bahasalah yang
mencirikan manusia.
Noam Chomsky, bapak Linguistik dunia,
menyebutkan bahwa jika kita mempelajari bahasa maka pada hakikatnya kita sedang
mempelajari esensi manusia, yang menjadikan keunikan manusia itu sendiri.
Manusia dirancang untuk berjalan, tetapi tidak diajari agar bisa berjalan.
Demikian pula dalam berbahasa, tidak seorangpun bisa diajari bahasa karena
manusia diciptakan untuk berbahasa. Dalam artian bahwa pada kenyataannya
manusia akan berbahasa tanpa bisa dicegah agar dia tidak memperoleh bahasa.










